In Bahasa Indonsia

 
 
 

 

 

 

 

 

 
Newspaper01
 
Newspaper02
 

Mengenang masa mudaku dan tahun-tahun pendudukan Jepang di Indonesia semasa perang dunia kedua.

Setelah mengalami masa masa indah di Dutch Indies, sekarang Indonesia, aku dan keluarga mengalami pendudukan Jepang selama tiga setengah tahun. Aku kehilangan ayah, negeri  dan semua yang kucintai tetapi ingatan itu tetap kusimpan.
Anak lelakiku menyarankan untukmembuat sebuah website yang memuat semua kengan itu. Dan inilah aku, di usia 79 tahun duduk di depan komputer kembali menjelajah ke masa lalu di Dutch Indies.

Elizabeth van Kampen


Kenangan Masa kecilku di Dutch East Indies
Ketika ayah selesai menunaikan tugasnya di militer pada tahun 1919 di kota Delft, dimana ia menerima pendidikan teknik, beliau harus segera merencanakan langkah apa yang selanjutnya harus ditempuh.

Theo can Kampen sangat mencitai kedua orang tuanya tetapi setelah pengalamannya di kota Delft, dia tidak merasakan Helmond sebagai rumahnya. Dia berkeinginan untuk menemukan dunia baru -  ini adalah sebuah sikap yang sangat luar biasa di tahun 1919. Dia berangkat ke Amsterdan dan memulai bekerja dan belajar di KPM. Setelah itu dia dikirim ke Dutch East Indies pada tahun 1920. Beliau masih sangat muda, 22 tahun usianya.

Dia sangat mencintai negeri itu, dimana banyak terdapat pulau – pulau yang indah. Hidupnya berubah sama sekali.

Terkadang kapal yang ditumpanginya juga berlayar ke China, Jepang, Singapore, atau Australia. Di Jepang dia melihat rumah – rumah yang terbuat dari kayu dan taman – taman yang indah. Di China dia melihat orang – orang yang miskin hidupnya dimana terkadang seorang ibu mencoba menjual anak perempuannya. Kota – kota seperti Sydney, Darwin dan pantai Australia sangat mengesankannya.

Tapi yang sangat disukainya adalah Dutch East Indies, atau sekarang disebut Indonesia, dia mencoba untuk merasakan bahwa itulah kampung halamannya. Dia harus belajar juga dan lulus dari beberapa ujian. Dia harus tinggal di Jakarta.

Selanjutnya ayah harus kembali ke Holland untuk mengikuti ujian. Pada tahun 1925 beliau mengikuti ujian di Utrecht, dia mencari ruangan untuk dirinya sendiri. Ditekannya bell pintu sebuah rumah besar di jalan Neude 36, sepasang orang tua mempersilahkannya masuk.

Ketika ia duduk di ruang tamu, dilihatnya foto seorang wanita muda yang cantik : Ibuku.
Dia jatuh cinta, selanjutnya mereka menikah pada bulan Juni 1926 di Utrecht.
Dia menyudahi hidupnya yang penuh petualangan dan tinggal di Helmond.
Pada April 1927 lahirlah aku, Elizabeth van Kampen.
Tetapi ayahku, Theo can Kampen tidak tinggal menetap di Helmond. Pada November 1928 kami pergi meninggalkan Netherlands dengan kapal SS Prins Der Netherlanden yang membawa kami ke Dutch East Indies. Maka berangkatlah aku, di usia satu setengah tahun, menuju surga dunia.


Sumatera
Setelah berlayar selama empat minggu dengan SS Prins der Nederlanden kami tiba di Batavia, dan tinggal untuk beberapa hari. Ayahku kembali ke negeri yang dicintainya, Ibuku dan aku memulai suatu kehidupan yang benar – benar baru.

Kapal yang kami tumpangi ke pulau Sumatera jauh lebih kecil. Ayahku menjadi seorang penasihat teknik di sebuah perkebunan kopi dan karet di Bengkulu. Dia juga mempelajari bagaimana menanam kopi dan karet yang benar. Itu menjadi sebuah kesempatan baginya. Perkebunan ini, Suban Ajam, adalah sebuah perusahaan swasta yang memiliki banyak pekerja dari Eropa dan Eurasian.

Rumah – rumah di Sumatera dibangun di atas tiang -  begitu juga rumah kami – ketika itu aku masih kecil dan sering merangkak di bawah rumah, membuat semua orang mencariku. Hal itu sebenarnya berbahaya karena ada banyak hewan seperti ular dan hewan lain yang berada di bawah rumah.

Suatu hari seseorang membawakan seekor orangutan. Pada waktu itu masih sangat banyak di hutan. Kami menempatkannya dalam sebuah kandang terbuat dari bamboo. Seminggu kemudian aku terlepas dariperhatian orang tuaku dan tukang kebun kami. Aku berjalan menuju kandang orangutan itu dan masuk melalui pintu yang kecil ke dalam kandang. Aku seorang anak berusia dua tahun berdiri berhadapan dengan orangutan yang menatap ke arahku. Ayahku melihat kejadian itu pertama kali, dengan cepat beliau meminta ibuku dan tukang kebun untuk tidak bergerak sama sekali. Setelah beberapa saat aku merasa cukup melihat orangutan, aku keluar dari kandang dan menutup pintunya kembali. Ayahku sangat gembira karena orangutan itu tidak menyentuhku dan akhirnya ia dikembalikan ke hutan.
Suatu hari tempat tidurku bergerak dari sudut satu ke sudut lainnya di kamar tidur. Orangtuaku tidak dapat memegangiku, merekpun terguncang-guncang. Kukira itu adalah suatu permainan  aku tidak dapat berhenti tertawa. Ternyata itu bukanlah suatu permainan, itu adalah gampa bumi. Keesokan harinya kulihat kerusakan di jalanan.

Adikku Henny lahir di tengah malam bulan Desember 1930. Ibuku dibawa ke sebuah rumah sakit sederhana dengan seorang dokter yang sedang mabuk malam itu, sementara perawat yang ada belum bisa memotong tali pusat bayi, sehingga ayah yang harus melakukannya.

Aku sangat gembira mempunyai seorang adik karena itu memberiku kebebasan dimana adik bayiku memerlukan perhatian lebih. Aku tiga tahun dan delapan bulan lebih tua dari Henny, aku masih ingat ketika ia sering menangis dan sangat keras sekali.

Paman Pierre, adik ayah, bibi Miep, dan sepupu Tonny dan Piet datang dari Jawa Timur dan tinggal bersama kami selama dua minggu. Itu adalah sebuah liburan yang sangat indah dan aku sangat menyukai paman Pierre yang suka tertawa dan sepupuku Tonny adalah seorang gadis yang baik hati.

Aku tidak dapat mengingat semuanya, tapi aku ingat ketika aku pertama kali berenang. Ibu dan bibi duduk berteduh dengan adik Henny. Yang lain berenang dan aku hanya duduk melihat merekan memanggil ayah untuk mengajakku berenang.  Setelah beberapa saat ayahku keluar dari air dan melamparku ke air. “ kallau kamu ingin berenang maka berenglah” dia melemparku dekat paman dan aku mulai berenang.

Di Sumatera jugalah aku banyak belajar berjalan, aku tidak suka di gendong. Seingatku Sumatera adalah sebuah tempat yang sangat hijau kemanapun kita memandang.

Usiaku tujuh tahun ketika kami harus meninggalkan Sumatera di tahun 1937. Terjadi depresi di seluruh dunia. Perkebunan Suban Ajam harus ditutup, maka ayah pergi ke Jawa untuk mencari pekerjaan baru. Ibu, aku dan Henny sementara kembali ke Holland.


Kakek dan Nenek di Holland
Kami naik perahu menuju Batavia dan tinggal di hotel untuk beberapa hari, sangat menyenangkan dan kami makan makanan yang enak – enak.

Tetapi ketika hari itu tiba, ketika ibu , Henny dan aku harus pergi dengan kapal lagi, kali ini menuju Holland. Ketika kami berangkat aku melihat ayah semakin kecil dari kejauhan. Itu adalah kesedihanku yang pertama kali.

Empat orang sangat senang sekali ketika kami tiba di Holland. Kakek-nenek sangat menyenangkan dan ramah kepada kami. Orang tua ibu dan kakek van Kampen ada di sana untuk menyambut kami ketika kapal kami tibna di Rotterdam. Aku bersikap sopan dengan menjabat tangan, tapi mereka menciumi seluruh wajahku. Kake van Kampen menggendongku dan berkata :”kamu nanti akan lebih tinggi dengan cepat”. Kakek ini menjadi favoritku, dia sering mengedipkan mata, sangat ramah dan bijaksana kepada kami.

Pertama kami tinggal selama lima bulan di The Hague tempat tinggal orang tua ibu. Mereka sangat senang ketika anaknya kembali. Aku sekolah di The hague – sekolah yang aku tidak suka. Anak – anak di sana sangat berbeda dengan teman –  teman di Dutch East Indies.

Nenek di The Hague membawaku dan Henny ke bioskop suatu hari. Kami nonton De Witte, film anak – anak dari Belgia. Henny menangis, nenek membawanya keluar dan menyuruhku menunggu sampai ia kembali. Ketika nenek melihatku tertawa – tawa. Nenek memberitahu ibu kalu ia sangat senang melihatku duduk sendiri, tidak memperdulikan orang sekitar, hanya tertawa – tawa melihat kelucuan film.

Selanjutnya kami harus kembali ke Helmond. Kakek dan nenek mempunyai rumah yang indah dengan halaman yang luas, beberapa phono buah-buahan, sayur-sayuran, sebuah kandang ayam, banyak tumbuhan dan bunga, terutama mawar, banyak sekali. Tapi tidak ada pohon pisang atau pohon kelapa.

Aku harus sekolah lagi, kali ini di Helmond. Kakek mengantarku ke sekolah di hari pertama. Dulu ia mengantar lima anak-anaknya ke sekolah, kini cucunya ke sekolah yang sama.
Kami tinggal di Holland selama sepuluh bulan. Ayah segera mendapatkan pekerjaan baru, tapi ibu ingin tinggal beberapa waktu lagi dengan keluarganya di Holland. Seakarang kami pulang ke kampung halaman! Orang tua ibu dan Kakek van Kampen mengantar kepergian kami. Kakek bertanya apakah aku akan menyesal meninggalkan Holland, tapi cucunya menjawab dengan bahagia bahwa : Tidak, aku akan kembali ke ayahku”. Kakek terkejut karena aku tidak pernah mengeluh merasa jauh dari ayah. Kakek berkata : “ Kamu manis sekali, Kakek akan memberitahu ayahmu lewat surat tentang ini “.

Aku mencintai kakek ini dan memintanya untuk datang bersama nenek ke Dutch East Indies. Kakek berjanji akan datang berkunjung. Dia merencanakan pergi ke Jawa pada tahun 1937 dan akan tinggal selama tiga bulan dengan masing masing anaknya, tapi beliau tidak dapat memenuhi janjinya. Aku tidak pernah bertemu denganya lagi, kakek meninggal pada tahun 1937 karena penyakit jantung.


Jawa Barat
Aku merasa beruntung dapat merayakan ulang tahunku yang ke-delapan di atas kapal, aku mendapat banyak hadiah kecil. Dari para kru kapal aku mendapat boneka pelaut dengan pakaian gelap. Akau dan anak-anak lainnya mendapat perhatian dan diberi banyak permen pada hari itu. Perjalanan dari Holland ke Dutch East Indies itu merupakan sebuah pesta besar bagi anak-anak. Kami menghabiskan hari bersama di sebuah ruang bermain dengan diawasi beberapa penjaga yang baik hati. Kami makan bersama-sama. Semuanya menyenangkan, dan pada waktu yang bersamaan kami banyak belajar seperti bercerita, menggambar, dan kerajinan tangan lainnya. Kami berolahraga juga; kegiatan-kegiatan itu membuat kami sibuk sepanjang perjalanan.

Suatu malam ketika Henny dan aku melihat keluar jendela di kabin, kami melihat lampu-lapu yang sangat banyak dari sebuah kota besar. Terlihat begitu indah dengan pemandangan kapal-kapal besar dan kecil. Kami melihat lautan cahaya. Adikku Hanny masih  ingat pemandangan itu, sangat berkesan bagi kami berdua.
Ibu memberitahu kami bahwa itu adalah kota Singapore, dan kami sudah mendekati Jawa. Batavia…. Akhirnya aku mendapatkan ayahku lagi.

Ayah mengambil cuti beberapa hari dan memesan  dua kamar hotel di bandung. Aku tidak dapat mengingat nama hotel itu tapi yang kuingat adalah tamannya yang indah. Aku bangung pagi sekali dan duduk di tanggan depan kamar kami, menikmati udar pagi yang segar sambil mengkagumi bunga-bunga yang indah berwarna warni, sampai aku dipanggil untuk makan pagi. Yang paling berkesan di kota Bandung adalah tamannya yang sangat indah.

Kami mengendarai mobil menuju ke perkebunan karet dan kopi di Batu Lawang. Ibu menyukai rumah barunya, dan ayah sangat senang karena keluarganya berkumpul kembali.

Tapi kebahagiaanku tidak berlangsung lama, aku harus kembali ke sekolah, kali in di Tasikmalaya. Tidak ada solusi pada waktu itu karena tidak ada sekolah yang dekat dengan rumah. Aku tinggal dengan keluarga Stam. Beliau adalah kepala sekolahnya. Dia seorang yang sarkastik. Aku sering tidak mengerti apa yang dikatakannya, tapi dengan melihat wajahnya beliau sangat tidak menyenangkan. Nyonya Stam sangat pemarah. Beliau sering memukul kedua anaknya, Truusje dan Tineke dan… aku tentunya.

Aku pulang ke Batu Lawang setiap minggu kedua, yang mana sangat menyenangkan! Kami mempunyai tman yang indah dan juru masak yang pandai memasak masakan yang sangat enak. Untuk Henny dan aku dia membuat banyak jenis kue dan manisan. Dia juga mengajariku beberapa kata dalam bahasa Sunda, bahasa orang Jawa Barat.

Pada salah satu liburan sekolah, paman Pierre datang berkunjung untuk beberapa hari. Kunjungannya membuat kami senang. Paman Pierre sangat baik hati, selalu menyengkan jika dia ada.

Pada saat liburan akhir pekan kami pergi ke pantai Pangandaran ditepi selatan Jawa Barat. Ayah bertanya apakah aku masih bisa berenang, aku tidak yakin apakah masih bisa, tapi aku berkata akan aku coba jika ayah mendampingiku ke laut. Dan ternyata aku masih bisa berenang. Lagi-lagi sebuah liburan akhir pekan yang indah. Pantai ini sangat indah, kami menemukan beberapa kerang kecil yang cantik.

Ayah dan Henny datang mengunjungiku di Tasikmalaya dan membawa kabar yang menggembirakanku. Mereka berkata bahwa ayah akan dipindahkan ke sebuah perkebunan yang lebih besar.  Bagiku itu adalah lebih dari sekedar bahagia untuk meninggalkan Tasikmalaya. Kami berangkat menuju Jawa Timur.


Jawa Timur
Waktu itu adalah awal tahun 1936 ketika kami pergi menggunakan kereta api dari Tasikmalaya menuju Malang. Perabotan rumah tangga dan piano ibu dikirim juga – mungkin dengan kereta juga. Sebuah perjalanan yang menyenangkan dan aku menyukai suara dan bau lokomotif.

Kami melalui beberapa stasiun besar dan kecil. Kulihat banyak rumah-rumah dimana anak-anak kecil melambaikan tangan kepada penumpang kereta api. Aku melambaikan tangan juga ke arah mereka. Ketika kereta melintas sebuah jembatan, terdengar gemuruhnya dan tampak sangat menarik ketika melihat ke arah bawah jembatan. Diantaranya juga terlihat warna hijau, hijau yang cantik, dengan bunga-bunga yang cantik dimana-mana.

Di Malang kami menginap di hotel Splendid, setelah makan Henny dan aku berangkat tidur.
Keesokan harinya setelah sarapan pagi, kami berangkat ke kota dan aku terus berkata “ aku senang Malang”. Ibu sangat senang dengan kota ini di atas gunung. Malang seperti Bandung, sebuah kota Eropa ; mempunyai suhu udara yang nyaman. Banyak took-toko modern yang menarik. Kedua orangtuaku sangat bahagia dengan kota Malang – Jawa Timur.

Kami berempat berjalan ke Toko Oen untuk makan. Sambil duduk, aku melihat ke sekeliling. Aku sangat terkesan dengan gunung api di sekitar Malang : Semeru, Arjuno dan Kawi mengawasi Malang. Lalu aku melihat alun-alun  kota. Di tengahnya ada sebuah pohon beringin dengan seorang tukang pangkas rambut sibuk melayani pelanggannya.

Aku sangat merasa senang dan bertanya pada orangtuaku jika aku boleh bersekolah di Malang, dan mereka menjawab “ya!”. Dan untuk pertama kalinya aku sangat berharap dapat segera kembali ke sekolah dan tinggal di kota Malang yang ramah.
Kami berjalan kembali ke hotel Splendid. Dari hotel kami dapat melihat pemandangan ke seluruh kota. Hotel itu terletak dekat dengan kali Brantas. Orangtuaku beristirahat, dan ayah berjanji akan mengajak jalan-jalan lagi sore harinya.
Ayah harus meninggalkan kami di hari berikutnya; beliau harus ke tempat kerjanya yang baru yaitu perkebunan kopi dan karet di Tretes Panggung, di atas lereng gunung Semeru.


Tretes Panggung
Pagi hari ayah pergi. Sore harinya Henny sakit dan harus dibawa ke rumah sakit. Adikku terkena bakteri disentri, dan dia harus istirahat paling tidak selama dua minggu. Henny menjadi kurus padahal sebelumnya dia adalah seorang anak yang montok.
Lima hari kemudian ibu dan aku pergi ke Tretes Panggung, dimana ayah sudah menunggu dengan juru masak Sawila, yang menerima kami dengan senyum hangat.
Rumah baru kami terlihat cantik. Ayah mengajak berkeliling untuk melihat-lihat, dan Sawila membawakan kami the dan kue kukus.

Karyawan yang tinggal di rumah itu sebelum kami adalah seorang Jepang, dia sudah kembali ke negaranya. Dia meninggalkan beberapa hewan peliharaan berupa beberapa ekor kucing, dua ekor kijang, dan Dessie seekor monyet yang nakal.

Kijang-kijang itu diberi tempat untuk berteduh dan berlari. Ibu senang dengan kedua kijang itu.
Aku mendekati Dessie yang duduk di kandangnya. Ayah melarang untuk menyentuh Dessie karena dia suka menggigit.
Dua ekor kucing yang cantik yang satu berwarna abu-abu dan yang satu kemerahan.

Aku harus sekolah di Malang, dan rumah kos yang kutinggali dijaga oleh seorang wanita tua yang sangat disiplin. Teman yang tinggal di rumah itu adalah Jos, gadis yang tiga tahun lebih tua dari aku.
Sekolah baruku di Malang sangat menarik. Aku mempunyai seorang guru yang pengertian dan kawan sekelas yang ramah.
Sekolah di Dutch East Indies dimulai pukul 07.00 a.am. dan selesai pukul 1.00.p.m.
Usai sekolah aku mulai menjelajah kota Malang. Rumah kos ku tidak jauh dai kali Brantas. Dari atas jembatan terlihat anak-anak berenang dan bermain di sungai.
Aku juga sering bermain dengan teman sekolah di jalan atau di rumah mereka. Pintu selalu terbuka di Dutch East Indies, dan selalu ada makanan dan minuman. Kami sering berada di luar rumah sampai sore menjelang malam sekitar sebelum pukul enam sore.

Setiap Sabtu aku pulang ke rumah anak-anak Houtsmuller ke Tretes Panggung, sekitar satu jam tiga puluh menit dengan menggunakan mobil.
Masa paling bahagia dalam hidupku dimulai. Yaitu hidup di dua dunia, satu dengan orangtuaku di perkebunan dan satu lagi di Malang.


Tahun 1937
Banyak hal terjadi di tahun 1937! Kakek meninggal dan ibu sedang mengandung. Di tengah itu semua, aku telah berusia sepuluh tahun. Pada masa itu aku mulai mengikuti ayah mengawasi perkebunan ketika aku di rumah. Ini adalah supaya aku tidak nakal karena aku adalah anak yang sangat aktif. Suatu ketika kami bertemu dengan dua ekor ulah phyton, mereka sedang mereyap di jalur tempat kami berjalan. Untunglah mereka tidak sedang mengarah kepada kami. Kami menunggu sampai mereka hilang dari pandangan. Aku sangat ketakukan hingga berhari-hari aku terus membicarakan kejadian itu.

Ayah membeli sebuah mobil bekas dengan merk Rheo. Dia mempunyai ijin mengemudi di Belanda tapi tidak dapat digunakan di Dutch East Indies, maka ayah harus pergi ke Malang untuk mengikuti ujian mengemudi.

Setiap hari Senin pukul 5:30, ayah mengantarku dengan mobil dari perkebunan ke Dampit, dan dari sana aku  naik bis ke Malang karena sekolahku dimulai pukul tujuh.

Ayah menunggu sampai bis berangkat.  Aku melambaikan tangan  dan berkata “ sampai sabtu depan” karena ayah akan menjemputku di Dampit sabtu depan.

Perjalanan dengan bis ini sekitar satu jam. Aku adalah satu-satunya orang Belanda di dalam bis. Aku sering duduk diantara ayam dan keranjang, punya orang Indonesia  yang akan menjualnya di pasar. Selalu sibuk dan aku harus duduk di depan sehingga sopir bis dapat mengawasiku. Aku sangat menikmati perjalan mingguan dengan bis itu dan mulai mengobrol dengan wanita- wanita di dalam bis. Terkadang aku diberi permen.
Bis dari Dampit tiba di pasar Malang, cukup jauh dari sekolahku, maka aku harus berlari untuk mencapai sekolah tepat waktu.

Setelah ayah memiliki mobil Rheo nya, kami sering bepergian mengujungi tempat –tempat yang menarik di Jawa Timur. Aku tidak dapat mengungkapkan seindah apa bagian dunia ini.

Orangtuaku mulai berteman dengan tetangga, dan karena jumlah kami yang sedikit di Dutch East Indies, kami anak-anak memanggil mereka paman dan bibi. Berbicara mengenai keluarga, kami juga mengunjungi bibi Miep dan paman Pierre, perjalanan itu cukup lama  jadi kami sering menginap di rumah mereka pada akhir pekan.

Kami mengunjungi beberapa candi Hindu yang dapat dijumpai di beberapa tempat di Jawa, ini karena banyaknya orang India yang bermigrasi ke Jawa. Ibu mulai mengajari Henny, karena adikku ini kurang begitu sehat untuk bersekolah di Malang. Dan sekaligus orangtua kami menyiapkan kelahiran adik bayiku.

Di Malang juga terjadi perubahan, pemilik rumah kedatangan cucunya dari Sumatera dan akan tinggal di Malang, jadi tidak ada kamar kosong untukku dan Jos.
Pada bulan Januari 1938 aku pindah dan tinggal dengan keluarga Wildervanck. Mereka punya satu anak perempuan : Hanneke.

Pada tanggal 20 Desember aku pulang dari sekolah, pemilik rumah kos memberitahu aku agar segera ke rumah sakit, Lavalette Clinic. Ibu sedang berada di sana dan ada seorang pembantu. Ibu pemilik rumah kos memberi bunga untuk ibu supaya aku tidak pergi dengan tangan kosong. Rumah sakit tidak begitu jauh letaknya, aku berangkat sendiri karena sudah tahu letaknya. Masalahnya adalah aku tidak ingin pergi, aku menginginkan seorang adik laki-laki bukan perempuan. Tapi ibu pemilik rumah kos menjadi sangat marah kepadaku menyuruhku segera berangkat secepatnya.
Maka pergilah aku, dengan rasa kecewa karena bukan adik laki-laki yang aku dapat. Aku berjalan perlahan menuju rumah sakit, setalah itu bertanya di mana ruangan ibuku. Aku menjumpai ibu yang bahagia dengan dikelilingi bunga dari ayah, keluarga dan teman-temannya. Aku memeluk ibu dan memberinya bunga. Setelah itu seorang perawat menawari aku untuk melihat adikku yang baru lahir.
Dia dalam buaian terlihat seorang bayi mungil.  Perlahan aku memegang tangannya yang mungil dan bertanya kepada ibu siapa namanya. Dia dinamai Jansje, pada akhirnya dia menyebut dirinya sendiri dengan nama Puck.

Translated by: Bagus Kamajaya


 
 

  Home